KOMUNIKASI DALAM KEPEMIMPINAN

 KOMUNIKASI DALAM KEPEMIMPINAN

Komunikasi adalah jantung dari kerjasama. Banyak pemimpin yang memiliki masalah dalam cara berkomunikasi. Pemimpin cenderung mendominasi pembicaraan, dan cenderung menuntut orang menyetujuinya. Sehingga di hadapan pemimpin, anak buah cenderung menjadi bersikap politically correct (apa yang disenangi pemimpin/ABS/Asal Bapak Senang).

5 tips mengelakkan diri menjadi pemimpin yang terlalu dominan dalam berbicara:

1. Secara sadar dan aktif mengapresiasi sudut pandang orang lain,

2. Perbanyak berbicara dalam hal² yang disetujui, walau sekecil/se-samar apapun itu, perbanyak berbicara tentang hal yang disetujui,

3. Jangan memaksakan pendapat,

4. Jangan pakai bahasa bersifat melarang,

(Contoh: Saat ini sebaiknya kita menjaga jarak sosial, bukan; jangan bersosialisasi)

5. Hindari kata "karena itu", "oleh karenanya", "makanya", dan sejenisnya

Pendek kata, pemimpin yang baik, jangan suka menggunakan "power"

Baru² ini saya berdiskusi dengan Ketua dan Sekretaris sebuah BKMZ, saya sampaikan: Dalam berorganisasi, gunakan surat seminimal/sesedikit mungkin. Karena di dalam surat, ada unsur power/pemaksaan.

Ketika BKMZ membuat surat, BKMZ membawa nama Bakormaz, yang merupakan power.

Kita boleh menggunakan power utk hal² yang memang kita pandang serius.

Saya ambil contoh, awal² masa covid saya memang sengaja pakai power, tanda tangan saya mengizinkan MZ berwirid, menurut saya; utk menekankan betapa pentingnya berhati-hati membuka MZ pada masa pandemi.

Namun setelah kita pantau daerah sudah memahaminya, dan mengikutinya, maka diserahkan kembali kepada BKMZ dan MZ secara berperingkat.

Kalau dulu YM. Abu sering mengatakan: Jangan jadikan organisasi kita "pabrik kertas".

Sekarang saya semakin memahami ungkapan ini, yang ternyata juga berarti "jangan suka mengancam anak buah".

Pemimpin yang suka membuat surat utk hal² yang kurang penting mencerminkan:

1. Dirinya baseball,

2. Dirinya tak bersahabat dengan anak buahnya,

3. Dirinya tidak memahami tugas,

4. Dirinya tidak efektif

Sebisa mungkin persedikit surat, ketika sesuatu perlu kejelasan, perlu pematuhan, baru lah kita keluarkan surat.

Dalam nilai² yang kita anut, tidak patuh surat, merupakan dosa besar, yakni tak patuh pemimpin.

Itu merupakan tekanan tersendiri bagi anggota.

Oleh karenanya, di sinilah kita sebagai pemimpin perlu arif:

1. Membuat surat utk hal² yang benar² penting dan benar² hanya bisa jika lewat surat saja,

2. Memperbanyak silaturrahim dan transfer pemahaman dengan anak buah.

Pemimpin yang baik, jarang menggunakan jalur power, lebih sering menggunakan jalur persahabatan.

Jalur persahabatan:

1. Komunikasi relax,

2. Cfm,

3. Telpon,

4. Silaturrahim.

Inilah kerja pemimpin, saking seriusnya dulu Abu buat materi judulnya "Pemimpin Berbicara"

Banyak pemimpin tidak berbicara, tapi nge-print (ngeprintah); dengan surat, ancaman, dsb.

Mungkin bisa jadi, samahalnya dengan kasus youtuber tertentu; meminta videonya di-like, di-subscribe, bagaimanapun ada unsur "menodong" atau "memaksa" di situ.

Sangat halus akhlak islam.

Seni mengingatkan orang lain juga begitu, memperingatkan yang sifatnya agak ancaman, adalah opsi terakhir.

Kalau kita orang TN, jauh²kanlah memakai kata: "Abu/Buya/Ayah nggak begini"

Kalau kasus sudah luarbiasa serius dan yang akan diingatkan luarbiasa keras kepala baru lah pakai kalimat ini.

Kalau belum, pandai²lah mencari pertanyaan yang sifatnya diplomatis dan mencerahkan:

- Apa manfaatnya jika tidak dengan cara ini,

- Apa bahayanya jika tidak dengan cara ini,

- Apa tujuan dari kebiasaan ini,

- Sebenarnya apa yang hendak kita capai,

- Dst dst dst

Sebenarnya seni ber-cfm begitu... 🙂 semakin efektif dan pandai kita berdiplomasi yang tidak lari dari substansi, semakin efektif kita ber-cfm, dan semakin efektif kita memimpin

Banyak pemimpin terjebak suka mengancam....

Kalau di komunitas TN, sering membawa nama Guru,

"Abu tidak begini"

Kalau di komunitas Islam sering membawa neraka,

"Ini calon neraka"

Dst dst dst.

Suka mengancam = tidak efektif ber-cfm = tidak efektif memimpin dan tidak cerdas juga, tentunya.

Oleh karenanya, tidak bisa tidak, disamping kita harus menjaga substansi pesan kita, kita memang juga harus mempertimbangkan kenyamanan dan perasaan pendengar kita.

Sering Abu dulu mengatakan: Goal kita adalah tujuan tercapai, bukan yang lain; bukan membuat orang malu, bukan membuat orang tertekan, dst.

Dan ternyata agar goal tercapai, sering sekali kita memang harus rendah hati; bersedia mengalah, bersedia mendengar, kadang² membuang jaim utk bersedia melawak, meninggalkan pride(kebanggaan), dst.

Rrruarbiasa... 🤠

Dulu pernah Abu mengatakan: Survey membuktikan semua pemimpin efektif pernah menjadi sales/pernah jualan.

Memang yang paling pandai begini² adalah penjual yang jualannya laris.

Kalau penjual tidak begini, sehebat apapun kualitas jualannya, ia ditinggalkan.

Pemimpin itu sejatinya berjualan, berjualan gagasan, pada pelanggannya; pelanggan pertamanya adalah anak buahnya.

Makanya, pemimpin yang baik adalah penjual yang baik, penjual yang baik adalah penjual yang tidak suka memaksa dan paham substansi.

Menariknya Nabi saw sebelum menjadi Nabi, memang berjualan... 🙂

YMU - 4 Okt 2020 - 10.22

Komentar